Saturday, February 18, 2017

AHY SENGAJA KALAH KARENA SKENARIO SBY 


NKRI : Saat banyak orang menertawari SBY karena kelahanan anak sulungnya AHY dalam pilgub Jakarta, kami tiba-tiba berpikir lain, bahwa sesungguhnya yang tengah berjalan adalah skenario SBY. Ingatan pada kekalahan SBY dan Hamzah pada pemilhan wakil presiden tahun 2001, menguatkan pikiran kami ini.
SBY menang tidak menargetkan Jakarta, ia tengah mempersiapkan AHY untuk sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya dan untuk itu AHY harus menjadi kesatria berjiwa besar dan negawaran muda, Kekalahan adalah ujian yang di harapkan & AHY bukan dikorbankan tapi tengah di tempa. AHY juga sekaligus untuk memecah ombak tanpa AHY bisa jadi Ahok menang satu putaran. Jauhnya elektabilitas anies dibanding ahok sebelum penetapan calon gubernur menjadi alasan untama perlunya pemecah omba dan SBY kali ini sangat jitu. Ahok hanya mampu mendulang suara jauh di bawah dari setengah pemilih Jakarta memberi suara, saat yang bersamaa, elektabilitas Anies merangkak naik.


PESIMIS AHOK AKAN MENANG DI PUTARAN KE-2


Kini banyak orang mulai pesimis Ahok menang lalu menjadi Gubernur Jakarta lagi, Elektabilitasnya yang stagnan, elektabilitas anies yang bergerak naik adalah ketakutan utama pendukungnya. Ini berkat kecerdasan dan intuisi SBY yang tajam. Ia seorang yang thinking general bukan?
Berjalannya skenario SBY juga terindikasi saat AHY menyampaikan pidato kekalahan, Pendukungnya malah sudah berteriak AHY for President. Saat bersamaa, jutaan orang yang melihat, termasuk yang bukan pendukung AHY, bahkan pendukung die hard Ahok, termasuk Jokowi, berdecak kagum lalu memuji AHY kesatria. Sebuah tanda lahirnya rasa suka yang kelak akan berpotensi menjadi keinginan untuk memilihnya.

SKENARIO SBY BERJALAN MULUS


Ini artinya, jangankan untuk jabatan politik setara dua bintang, untuk empat bintangpun AHY sudah mendapat dukungan untuk itu. Jalannya lempang. Hanya tsunami politik yang bisa menghadang. Apa yang didapat AHY ini adalah sebuah mukjizat bagi seorang mayor untuk menjadi jenderal, seorang mayor memerlukan waktu lebih dari sepuluh tahun, Dan tak ada jaminan AHY mendapatkan itu, Apalagi kian tahun, sBY kian kehilangan pengaruh karena usia renta, juga dinamika kehidupan.
SBY tak mau itu terjadi pada putra sulungnya, AHY harus menjadi jenderal secepatnya. Dan itu tercapai tak sampai setahun setelah AHY berhenti menjadi tentara aktif. Kini, Popularitas juga elektabilitas AHY jauh mengungguli para jenderal aktif sekalipun.
Itulah hebatnya SBY, Kehebatan ini pernah ia tunjukan dimasa lalu.
Hanya 3 tahun setelah ia kalah untuk menjadi wakil presiden, ia kemudian malah menjadi presiden selama sepuluh tahun, dengan catatan apik : mengalahkan atasannya, juga seniornya di tentara. Hebat!

0 comments:

Post a Comment